Magic Mirror
Karya : Oktavidiayu Aminatus Zahro
Di suatu
negara ada seorang gadis berumur 16 tahun, gadis itu hidup di sebuah gudang.
Tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan gudang tersebut. Di dunianya yang
kesepian itu. Gadis itu memimpikan sebuah kebahagian. Gadis itu bernama Rin.
Pada suatu hari Rin menemukan sebuah cermin yang sangat tua. Tiba-tiba ada
pantulan cahaya yang sangat terang, ternyata muncul anak laki-laki dari cermin
tersebut. Laki- laki tersebut mengenalkan dirinya sebagai penyihir ke Rin.
“Nama
ku Len, aku seorang penyihir” ( Sambil tersenyum)
“Kenapa
senyumannya seperti ku?” (Rin berkata dalam hatinya)
Rin sangat bingung dengan hal
tersebut. Len menjelaskan semua ke Rin.
“Kamu
adalah kembaran ku, tapi kita beda dunia, jadi kamu jangan takut dengan ku”
“Tapi
aku masih bingung dengan apa yang kamu maksud”
“Suatu
saat kamu akan mengerti dengan apa yang aku maksudkan”
Hari demi hari yang Rin lewatkan
bersama Len. Akhirnya Rin percaya bahwa Len kembarannya. Kehidupan Rin pun
mulai berubah semenjak ada Len. Tawaan di ruangan tersebut mulai ada. Kesepian
Rin di dunia ini mulai berubah menjadi kebahagian tersendiri. Rin berkata pada
Len.
“Apakah
tak apa jika aku mengatakan bahwa kau teman pertamaku? kau juga yang membuat
hari-hari ku penuh kebahagiaan” (Rin berkata dengan tersenyum)
“Tak
apa, jika kau membutuhkan sesuatu atau kau kesepian sentuhkan lah tangan mu di cermin
itu. Suaramu dapat mencapaiku”
Hari demi hari berlalu Len mulai
menggunakan sihirnya. Setiap kali Rin menyentuhkan tangan nya ke cermin
tersebut Len langsung muncul dengan menyentuh tangan Rin. Rin merasakan
sentuhan tangan tersebut sangat hangat. Entah kenapa Rin selalu menggenggam dan
tak ingin melepaskan tangan Len, saat Len menyentuh tangan Rin. Tidak hanya itu
juga Rin selalu menjatuhkan air mata saat Len muncul dari cermin tersebut. Rin
pun bertanya ke Len.
“Apa
aku boleh bertanya?”
“Kamu
mau tanya apa?”
“Apakah
tak apa jika aku menggenggam tanganmu seperti ini?”
Len pun diam dan tak menjawab
pertannyaan tersebut. Karena Len tahu bahwa kemunculannya tersebut tak
akan berlangsung lama. Kemunculan tersebut hanya muncul sementara. Karena
takdirlah yang sudah mengaturnya. Len tahu jika dia bilang ke Rin, Rin pasti
akan sedih dengan semua ini. Rin bertanya lagi.
“Kenapa
kamu tidak menjawab pertanyaan ku”
Len tetap diam. Dan akhirnya pun
Rin tidak menananyakan hal tersebut lagi ke Len. Len bertanya tentang kaki nya yang cacat
tersebut.
“
Kenapa kamu tak bisa berjalan?”
“Aku
tidak tahu tentang itu, mungkin ini sudah takdir. Aku sebenarnya ingin bisa
berjalan seperti gadis yang lain”
Penyihir tersebut mengabulkan semua
keinginan Rin. Penyakit Rin pun sembuh. Rin bingung dengan semuanya, kenapa Len
bisa menyembuhkan kaki Rin. Padahal di dunia ini tak ada yang bisa menyembuhkan
kaki Rin. Rin pun tak menanyakan hal tersebut, karena dia tahu bahwa Len adalah
seorang penyihir. Semua keinginan Rin di kabulkan oleh Len. Perang yang dulu
tak kunjung berakhir akhirnya telah berakhir. Rin ingin menjadi seorang putri
yang hidup di istana yang sangat indah dan bagus.
“Apa
kamu masih menginginkan mimpi tersebut?” (Len bertanya ke Rin)
“Aku
masih menginginkan mimpi itu”
Karena pertanyaan itu Rin tiba-tiba
menjadi teringat dengan mimpi kecil nya itu. Hari demi hari mimpi itu terwujud.
Rin sangat senang dengan hal tersebut. Sekarang Rin menjadi seorang putri yang
tinggal di suatu istana yang sangat indah dan bagus. Tak lupa juga Rin membawa cermin
tua tersebut. Walaupun hal itu sudah menjadi kenyataan dan apa yang di inginkan
Rin sudah dikabulkan semua oleh Len. Walaupun begitu entah kenapa Rin merasakan
ada sesuatu yang hilang darinya. Entah itu apa Rin pun juga tidak tahu dengan
perasaan nya tersebut. Hari berjalan dengan dengan cepat, tak terasa Len akan
meninggalkan Rin, dan Rin akan sendiri lagi. Saat Len bilang kepada Rin tentang
hal tersebut Rin sangat sedih mendengarnya.
“
Rin.....”
“Iya...”
“Aku
akan pergi”
“Kenapa
kamu pergi?” (Rin menjatuhkan air mata)
“Ini
sudah waktunya aku pergi”
“Jangan
pergi meninggalkan ku Len, jika tidak ada kau di sisiku lagi aku tak akan merasakan
kebahagiaan itu lagi.”
Len diam dan Len pun meneteskan air mata.
“Tolong
jangan tinggalkan aku Len”
“Jika
aku tak pergi sekarang cermin tua itu akan pecah dan akan hilang, tak hanya itu
sihirku pun akan hilang . Kau jangan bersedih, suatu saat pasti kita akan
bertemu lagi. Jika kau merindukan ku lihat lah cermin tua tersebut”
Rin sangat sedih mendengar hal itu.
“Aku
harus pergi sekarang.......”
“Tolong
jangan pergi Len”
“Selamat
tinggal Rin...”
“Jangan
katakan itu, kumohon padamu jangan tinggalkan aku”
“Kumohon
kau jangan menangis”
Tak lama kemudian Len menghilang dari
hadapan Rin. Rin sangat merasakan kesepian itu lagi. Rin ingin kehidupan ini
terus berlanjut meski tak ada Len di sisinya. Rin berkata di depan cermin tua
tersebut.
“Semua
kenangan yang kita lewati bersama, senyuman mu tawa mu tak akan pernah kulupakan.” (Berkata dalam
hatinya)
Rin selalu membersihkan cermin tersebut,
Rin selalu menunggu kedatangan Len lagi. Tak peduli berapa lama waktu berlalu
Rin akan selalu menunggu kedatangannya Len.
Komentar
Posting Komentar